Cerita Fiksi "Langit setelah Hujan."
Judul: Langit Setelah Hujan
Orientasi
Yuta Kazuhara adalah siswa kelas 2-B di SMA Miyama, sekolah swasta ternama di pinggiran Tokyo. Berusia 17 tahun, Yuta dikenal sebagai siswa yang tenang dan cenderung pemalas, tapi punya pesona tersendiri. Ia bukan tipe populer, tapi banyak orang memperhatikannya karena pembawaannya yang dewasa dan cara bicaranya yang tajam namun jarang digunakan. Dengan tinggi badan 177 cm dan rambut hitam yang selalu tampak acak-acakan, Yuta lebih senang menyendiri di pojok kelas, menatap langit dari jendela.
Satu-satunya orang yang mampu membuat Yuta berbicara lebih dari sepuluh kalimat adalah Natsume Enomoto, sahabat masa kecil yang kini duduk di bangku sebelahnya. Natsume adalah kebalikan dari Yuta—ceria, extrovert, dan selalu penuh semangat. Setiap pagi, Natsume akan menyambut Yuta di gerbang sekolah, menarik lengannya menuju kelas sambil bercerita panjang lebar tentang hal-hal sepele.
Mereka berdua telah bersama sejak SMP, dan meski hubungan mereka hanya disebut "sahabat", teman-teman mereka—dan bahkan guru-guru—menebak bahwa ada perasaan yang lebih dalam yang belum diakui.
Komplikasi
Semester baru dimulai dengan kedatangan seorang siswi pindahan, Reina Inoue. Rambutnya panjang dan berwarna coklat terang, sorot matanya tajam, dan caranya membawa diri menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi. Saat ia memperkenalkan diri di depan kelas, Yuta langsung membeku. Reina adalah teman masa kecilnya yang sempat tinggal di lingkungan yang sama hingga kelas empat SD sebelum pindah ke kota lain. Mereka dulu sangat dekat—terlalu dekat untuk anak-anak seusia itu.
“Yuta… Kazuhara?” ucap Reina saat melihatnya. “Sudah lama, ya.”
Seisi kelas terkejut. Natsume menoleh pada Yuta, yang hanya bisa mengangguk pelan.
Sejak hari itu, Reina mulai mendekati Yuta. Ia duduk di bangku belakangnya, sering menyapanya di kantin, dan beberapa kali bahkan mengajak pulang bersama. Natsume mulai merasa terganggu, meskipun ia tidak pernah mengungkapkan itu secara langsung. Ia mencoba tetap ceria, tapi sikapnya mulai berubah. Senyumnya tidak seterang biasanya, dan ia mulai menjaga jarak dari Yuta.
Yuta sendiri tidak tahu bagaimana harus bersikap. Reina mengingatkannya pada masa kecil yang dulu ia pendam—kenangan manis yang tiba-tiba hadir kembali dengan wajah yang lebih dewasa. Namun, ada sesuatu dalam diri Natsume yang membuat hatinya merasa nyaman. Dalam diam, ia mulai bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang selama ini ia cintai?
Klimaks
Puncak konflik terjadi saat hujan turun deras pada suatu sore sepulang sekolah. Reina mengajak Yuta berteduh di halte bus dekat gerbang sekolah. Saat Yuta menolak dengan sopan, Reina justru melangkah mendekat dan memeluknya dari samping.
“Setelah semua tahun ini, aku masih suka kamu, Yuta,” bisiknya pelan.
Yuta terdiam. Tidak membalas, tidak menolak. Ia hanya membeku. Dan itulah saat Natsume muncul dari balik gerbang, berdiri kaku di bawah payung putihnya. Matanya melebar, lalu mengecil, sebelum ia berbalik dan berlari pergi tanpa sepatah kata.
Yuta mengejarnya, tapi langkah Natsume terlalu cepat. Ia menghilang di balik gerimis yang semakin deras. Hatinya sesak, dan untuk pertama kalinya, Yuta merasa kehilangan yang nyata.
Keesokan harinya, Natsume tidak masuk sekolah. Ia mematikan ponselnya, tidak membalas pesan Line, dan bahkan tidak membuka Instagram. Hari-hari Yuta terasa kosong tanpa suara ceria di telinganya, tanpa tangan yang menarik-narik bajunya saat bosan, tanpa tawa renyah di sela-sela pelajaran.
Yuta akhirnya sadar. Reina adalah masa lalu, sementara Natsume adalah kehidupannya sekarang. Yang ia butuhkan bukan kenangan, tapi seseorang yang selalu hadir dan berjalan bersamanya.
Resolusi
Sore hari ketiga tanpa Natsume, Yuta nekat datang ke rumahnya. Hujan turun lagi, seperti menegaskan suasana hatinya. Ia berdiri di depan pintu, kuyup dan menggigil, memegang payung yang sudah setengah rusak karena angin.
Pintu terbuka, dan Natsume muncul dengan mata sembab dan piyama bergambar kucing.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya pelan, mencoba bersikap dingin.
“Aku… aku bodoh,” kata Yuta. “Aku nggak tahu sejak kapan aku jatuh cinta sama kamu. Tapi pas kamu nggak ada di sekolah, rasanya hampa. Aku ngerasa kehilangan. Dan itu nyakitin banget.”
Natsume menunduk, air matanya mengalir lagi. “Aku takut kamu milih dia…”
Yuta menggeleng. “Aku milih kamu. Selalu kamu. Tapi aku terlalu lambat buat nyadar.”
Mereka terdiam beberapa detik, lalu Natsume keluar dari pintu dan berdiri di bawah hujan bersamanya. Ia mengambil payung Yuta dan memayungi mereka berdua.
“Kalau kamu nyakitin aku lagi, aku nggak akan maafin,” ucapnya setengah menggoda.
Yuta tertawa kecil. “Baik, Bu Natsume.”
Mereka tertawa di bawah langit kelabu yang mulai cerah. Dari kejauhan, pelangi mulai muncul, seolah menandai awal dari babak baru dalam hidup mereka.
Hari-hari berikutnya, Yuta dan Natsume kembali ke sekolah, berjalan beriringan seperti biasa, tapi kali ini ada genggaman tangan di antara mereka. Reina, meskipun sempat kecewa, akhirnya menerima kenyataan dengan senyuman tulus. Ia memutuskan untuk berteman baik dengan keduanya, dan justru menjadi pengingat bahwa cinta sejati bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang siapa yang selalu hadir saat dibutuhkan.
Langit Miyama kini tak lagi kelabu. Setelah hujan panjang, sinar matahari kembali menyinari hati Yuta—bersama gadis yang sejak dulu selalu ada di sisinya.

Comments
Post a Comment